• E-mail Palsu Mengatasnamakan CBN   • Libur Memperingati Hari Natal   • Fasilitas Gratis Baru E-mail Spooling Filtering
  NEWS | TECH |TRAVEL |SHOPPING |ENTERTAINMENT |HEALTH |MAN |WOMAN| MAP |  
 
Hot Topic | Showbiz News | Hang Out | E-Cards | Review | Horoscopes | Clubbing
 
   
Movie Review  
 




'The Artist': Sebuah Surat Cinta untuk Sinema
Movie Review Tue, 06 Mar 2012 14:00:00 WIB



Ekky Imanjaya - detikhot

Jakarta - Era transisi antara film bisu dan bicara (talkie) Hollywood dibahas dengan sangat apik oleh sutradara Prancis Michel Hazanavicius. Caranya dengan memakai metoda produksi dan bahasa audio visual khas film bisu! Dan, jadilah 'The Artist', sebuah film bisu tentang film bisu yang saat pertama diwacanakan kurang ditanggapi dan diremehkan banyak orang-- tapi sekarang mendulang berbagai penghargaan dan nominasi, mulai dari Festival Film Cannes, Golden Globe, BAFTA hingga Academy Awards.

Film ini berkisah tentang seorang bintang film dari era silent movie, George Valentin (Jean Dujardin) di ujung kejatuhan era itu dan berawalnya kejayaan masa film bicara di Hollywood. Pada 1927, ia dipuja-puja ribuan penggemarnya. Saat menghadiri premiere film terbarunya, 'A Russian Affair', secara tak sengaja salah seorang penggemarnya terdesak ke dalam Red Carpet. Fotografer pun beraksi, dan foto sang bintang dan penggemarnya, Peppy Miller (Berenice Bejo) pun masuk ke Variety dengan judul besar: “Who’s That Girl?”

Dari seorang penggemar lalu ikut casting, karier Peppy kemudian menanjak, diawali dari menjadi penari latar dan figuran (dengan sedikit bantuan dari George), sementara pamor George Valentin makin menurun. Hal ini diperkeruh oleh Al Zimmer (John Goodman) dari Kinograph Studios yang menyatakan George sudah tua dan eranya sudah lewat karena era talkie dengan bintang muda yang lebih segar akan menggantikannya.

Dua tahun kemudian, Peppy menjadi bintang utama sebuah film talkie dan mendapatkan sambutan hangat, sementara film George yang ia produksi dan sutradarai sendiri, masih format film bisu, anjlok di pasaran, bersamaan dengan anjloknya stock-market tahun 1929. Ia pun diusir istrinya, Doris (Penelope Ann Miller), dan tinggal di apartemen murah bersama supirnya, Clifton (James Cromwell) dan anjingnya yang superlucum Jack (diperankan oleh 3 ekor anjing, yang utama bernama Uggie). Peppy , yang merasa berhutang budi, selalu ingin menolongnya, tapi George terlalu gengsi dan sombong untuk ditolong oleh siapa pun.

Film ini memakai pola desain produksi silent movie: hitam-putih (walau disyuting dengan warna oleh sinematografer Guillaume Schiffman, tidak ada suara (dialog digantikan oleh intertitles, yaitu kartu bertulisakan dialog-dialog penting saja) kecuali music score, format rasio 1.33:1, pilihan bahasa visual (lensa, pencahayaan, gerakan kamera, frame rate 22fps) dan mise-en-scene (kostum, disain produksi secara umum) khas film bisu. Dan hal penting lainnya: tidak ada zoom shot, karena saat itu teknologi ini belum tercipta.

Karena film bisu, salah satu yang tepenting adalah scoring (yang biasanya dipertunjukkan secara langsung di setiap pemutaran filmnya), yang digubah oleh Ludovic Bource, diproduksi di Belgia, dimainkan oleh Brussels Philharmonic pimpinan Ernst Van Tiel—salah satunya adalah "Pennies from Heaven" yang dinyanyikan Rose “Chi-Chi” Murphy” tahun 1936.

Sang sutradara sendiri menyatakan bahwa film ini adalah surat cinta untuk sinema, sebuah upaya apresiasi dan hormat terhadap sejarah sinema dan para tokohnya, seperti Hitchcock, Lang, Ford, Lubitsch, Murnau dan Wilder—kenapa dia tidak menyebut Charlie Chaplin ya?

Yang menarik, sang sutradara menggunakan poster dan hal lainnya untuk mempertegas emosi karakter. Misalnya, ketika Peppy mencoba jaket George, tak jauh dari sana ada poster "The Thief of His Heart". Ketika George baru saja selesai melelang barang-barangnya karena bangkrut, ia menyeberang menuju poster “The Lonely Star”, dan kehadiran Peppy yang ingin menolong George saat momen itu ditandai dengan poster “Guardian Angel”.

Pun ketika George menyadari bahwa dirinya mulai gagal di film terbarunya, karena di saat yang sama ada premiere film talkie Peppy, pada adegan itu terpampang bagian akhir film terbaru itu: George terhisap dalam pasir dan tak ada yang bisa menolongnya--tanda kehancuran sebuah era sudah di ambang gerbang.

Film berdurasi 100 menit ini berhasil, pertama dalam hal format (penghargaan dan pencapaian bahasa silent movie dengan menawan di era eksploitasi special effect dan CGI yang serba wah). Kedua, film ini berhasil memukau banyak penonton, walaupun nyaris tanpa dialog dan bercitra hitam-putih dari awal sampai akhir.

Terutama, film ini menarik bagi Anda yang ingin mendalami bagaimana sejarah industri film di Hollywood masa 1920an dan 1930an. Dan juga soal sound, pemakaian diegetic dan non-diegetic sound (saya tak mau membocorkannya, tapi silakan perhatikan saat adegan mimpi).

Setelah menonton film ini, setidaknya ada dua kesan mendalam. Satu, merenungi nasib film bisu negeri sendiri yang sebagian besar tak tentu rimbanya. Dua, keinginan untuk belajar tap dancing a la HIM Damsyik.

Ekky Imanjaya, redaktur rumahfilm dan pengajar film di Binus International.

(mmu/mmu)

Sumber: detikhot




Other articles

Kebenaran Adalah Sumber Kekacauan
Sat, 25 Feb 2012 10:30:00 WIB
The Ides of March
Tue, 21 Feb 2012 13:55:00 WIB
Iron Lady
Wed, 08 Feb 2012 09:50:00 WIB

 

 
Fajar.co.id 21cineplex.com Fiasco records Warner
 
 
452


miliar rupiah dikabarkan nilai cincin kawin yang akan dikenakan oleh Kate Middleton


(daily mail)


 
Horoscopes
 

Bulan ini beragam ide dan projek yang ingin dikerjakan muncul di benak Anda.


read more...