• E-mail Palsu Mengatasnamakan CBN   • Libur Memperingati Hari Natal   • Fasilitas Gratis Baru E-mail Spooling Filtering
  NEWS | TECH |TRAVEL |SHOPPING |ENTERTAINMENT |HEALTH |MAN |WOMAN| MAP |  
 
Hot Topic | Showbiz News | Hang Out | E-Cards | Review | Horoscopes | Clubbing
 
   
Album Review  
 




'Ghostory' - School of Seven Bells: Album Elektronik Shoegaze yang Menggemaskan
Album Review Fri, 11 May 2012 15:09:00 WIB


Yarra Aristi - detikhot

Jakarta - Album perdana band asal New York, School of Seven Bells yang bertajuk 'Alpinisms' (2008) termasuk salah satu album yang mempesona pada saat itu. Album itu menyuguhkan aransemen musik yang terdengar ethereal, mengawang, namun juga manis, diimbuhi oleh vokal nan cantik.

School of Seven Bells dibentuk pada 2007 oleh Benjamin Curtis (eks Tripping Daisy dan Secret Machines) dan saudara kembar Claudia dan Alejandra Deheza (eks On!Air!Library!). Mereka banyak mendapatkan referensi dari band dan musisi shoegaze seperti My Bloody Valentine, Cocteau Twins, Curve, dan sejenisnya.

Setelah merilis album kedua 'Disconnect from Desire' (2010), Claudia hengkang dari band tersebut. Kali ini di album 'Ghostory', di mana Alejandra Deheza hanya bekerja berdua Benjamin Curtis, materi yang disuguhkan terasa lebih mantap dan lebih berisi. Melodi-melodi yang diciptakan semakin berani dan variasi yang diberikan semakin beragam.

Contohnya dapat Anda dengar dalam track pertama 'The Night', bernuansa electro-pop nan molek. Kesan industrial dapat Anda dengarkan pada track 'Show Me Love', sementara untuk secercah elemen noise pop, hadir dalam track berjudul 'Scavenger'.

Salah satu favorit saya adalah 'Love Play'. Lagu ini bernuansa dream pop yang cantik. Pada 'Low Times' mereka memasuki dimensi yang lebih gelap dan menggema, diwakili oleh suara drum elektronik yang berat, suara gitar yang mengangkasa, disempurnakan oleh bisikan vokal Alejandra yang berlapis-lapis dan mengawang. Mendengarkan lagu ini ibarat sedang shoegazing di sebuah night club.

Secara keseluruhan, album ini memang terkesan sungguh dramatis. Meramu secara tepat percampuran dari shoegaze, electro-pop, dream pop, serta indie rock yang sekilas ada elemen trance yang terdengar di sana-sini. Ini adalah sebuah album shoegaze dalam racikan lebih modern yang sangat mencuri hati dan dapat menjadi teman baik bagi sepasang telinga Anda.

Yarra Aristi pernah bekerja sebagai wartawan musik di dua majalah musik terkenal. Kini penyiar dan music director di sebuah stasiun radio swasta terkenal di Jakarta.

(mmu/mmu)

Sumber: detikhot




Other articles

'Love After War' - Robin Thicke: Untuk Anda yang Butuh Suasana Sensual
Fri, 20 Apr 2012 16:23:00 WIB
Album 'Making Mirrors': Lukisan Nada ala Gotye
Fri, 13 Apr 2012 15:18:00 WIB
'Lioness: Hidden Treasures': Album Perpisahan Amy Winehouse
Tue, 20 Mar 2012 12:14:00 WIB

 

 
Satria Liputan6.com Indosiar.com Fiasco records
 
 
452


miliar rupiah dikabarkan nilai cincin kawin yang akan dikenakan oleh Kate Middleton


(daily mail)


 
Horoscopes
 

Keep on low profile, meski ini agak bertentangan dari nurani Anda yang sebenarnya.


read more...